AI Jadi Otak Perang Modern, AS-Israel Bisa Hantam Ribuan Target Sehari

11 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

13 March 2026 16:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Israel kini menunjukkan bagaimana perang modern dijalankan dengan cara yang jauh lebih cepat dan terukur. Bukan hanya soal banyaknya jet tempur atau rudal yang dimiliki, tetapi juga soal seberapa cepat mereka bisa menemukan, memilih, dan menyerang target.

Dalam perang di Iran, kemampuan itu terlihat sangat jelas. Pada 28 Februari, AS dan Israel diduga melancarkan lebih banyak sortie serangan dibandingkan yang mampu dilakukan AS pada hari pertama pertempuran besar pada 1991 maupun 2003, yang masing-masing sekitar 1.300 sortie.

Lima hari kemudian, Menteri Perang AS Pete Hegseth mengatakan "Operation Epic Fury" telah mengerahkan kekuatan udara dua kali lebih besar dibandingkan operasi "shock and awe" di Irak pada 2003.

Kemampuan tersebut ditopang oleh sistem penargetan yang jauh lebih canggih. Kedua negara kini dapat mengidentifikasi target dengan lebih cepat dan lebih presisi berkat penggunaan perangkat lunak (software) dalam skala besar, termasuk dalam kadar terbatas kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dengan sistem seperti ini, AS dan Israel disebut mampu menghasilkan dan menghantam target dalam skala industri.

Target Disusun dari Ribuan Data dengan Bantuan Sistem AI

Di pihak Amerika Serikat, proses penentuan target untuk perang di Iran dijalankan dari markas Central Command (CENTCOM) di Tampa, Florida.

Di sana, para komandan menyiapkan berbagai pilihan serangan untuk sejumlah kemungkinan situasi, misalnya menyerang situs nuklir Iran. Setelah itu, tim intelijen atau J2 menyusun basis data berisi ribuan target potensial dari citra satelit, intelijen sinyal, dan berbagai sumber lain.

Basis data itu juga dilengkapi dengan daftar lokasi yang tidak boleh diserang, seperti sekolah, rumah sakit, dan fasilitas sipil lainnya. Selanjutnya, seorang petugas khusus menentukan jenis senjata yang paling cocok untuk menyerang tiap target, misalnya bom penghancur bunker untuk target bawah tanah atau bom berpemandu GPS untuk bangunan.

Para pengacara militer ikut meninjau target-target tersebut, tetapi keputusan akhirnya tetap berada di tangan pimpinan. Setelah itu, tim strategi dan perencanaan atau J5 menyusun semuanya menjadi rencana perang, lalu menyerahkannya ke divisi operasi atau J3 untuk dijalankan dalam bentuk perintah serangan udara.

Perangkat lunak memegang peran besar dalam seluruh proses ini. Salah satu sistem yang kini digunakan AS dan NATO adalah Maven Smart System, yang sebagian besar dibangun oleh Palantir. Maven adalah alat bantu pengambilan keputusan yang menggabungkan data dari sumber terbuka seperti media sosial dan sumber rahasia seperti satelit.

Sebagai contoh, jika seseorang di Iran menulis di Telegram bahwa ia melihat peluncur rudal melintas di depan rumahnya, sistem ini bisa mencocokkan informasi itu dengan data dari satelit frekuensi radio yang menangkap sinyal elektronik dari radio militer Iran. Dari sana, Maven dapat membantu menentukan target, memilih senjata yang paling sesuai, hingga menilai hasil serangan setelah dilakukan.

Arnel David, perwira NATO yang memimpin program tersebut, mengatakan sistem ini juga berfungsi sebagai gambaran digital dari kondisi nyata di lapangan. Dengan begitu, pimpinan bisa memperkirakan dampak dari suatu keputusan sebelum benar-benar dijalankan. Tujuannya adalah agar komando militer bisa bekerja lebih cepat, lebih terukur, dan dibantu mesin.

Dampaknya sangat besar terhadap kecepatan operasi. Joe O'Callaghan, kolonel purnawirawan yang memimpin pengembangan Maven di XVIII Airborne Corps Angkatan Darat AS, mengatakan sebuah studi rahasia menunjukkan sistem Palantir memungkinkan staf militer merencanakan operasi sebesar perang Irak hanya dengan sepersepuluh jumlah personel.

Maven sendiri telah digunakan untuk membantu Ukraina sejak 2022.

Seorang mantan jenderal NATO bahkan mengatakan pekerjaan yang dulu membutuhkan puluhan orang dan waktu puluhan jam, kini bisa dipangkas menjadi hanya dua menit. Seorang jenderal Eropa menggambarkan perubahan itu.

"Kita bergerak dari sepuluh target per hari menjadi 300. Targetnya adalah 3.000 per hari," dikutip dari The Economist.

Israel juga memiliki sistem serupa, meski menggunakan perangkat lunak yang berbeda. Menurut seorang perwira, Israel telah membuat proses penentuan target berjalan dalam skala besar.

Dalam persiapan perang, para perencana militer AS disebut terkejut ketika Israel datang dengan daftar target berisi ribuan sasaran di Iran, lengkap dengan jenis amunisi yang dibutuhkan untuk masing-masing target.

Daftar itu mencakup markas dan rumah para pemimpin Iran, pangkalan militer dan milisi, peluncur dan pabrik rudal, hingga infrastruktur sipil.

Risiko Salah Sasaran Masih Tetap Besar

Meski teknologinya semakin canggih, proses penentuan target ini sudah menjadi sorotan sejak awal perang.

Pada 28 Februari, sebanyak 175 orang, yang sebagian besar adalah anak-anak, tewas setelah sebuah sekolah putri di Minab, Iran selatan, terkena serangan yang diduga kuat berasal dari rudal jelajah Tomahawk milik Amerika Serikat.

Lalu pada 11 Maret, New York Times melaporkan bahwa Pentagon menyimpulkan serangan tersebut terjadi karena kesalahan dalam menentukan target, saat menyerang pangkalan angkatan laut di dekat lokasi itu.

Menurut HRANA, lembaga pemantau hak asasi manusia yang berbasis di Washington, hampir 1.800 orang telah tewas di Iran sejauh ini. Sebagian besar korban tersebut merupakan warga sipil.

TargetFoto: The Economist
Target

Meski sistem penargetan canggih ini dinilai lebih baik dalam mencari sasaran dan mengurangi korban sipil dibandingkan sistem lama, risikonya tetap ada. Salah satu masalah utamanya adalah data target bisa cepat berubah dan menjadi tidak lagi akurat.

Pengalaman Israel di Gaza menunjukkan hal itu. Ada kasus ketika sebuah bangunan pernah dipakai Hamas, tetapi saat serangan dilakukan, bangunan tersebut ternyata sudah ditempati keluarga sipil. IDF memang rutin memeriksa ulang target-targetnya, tetapi dinilai tidak cukup sering.

Hal yang mirip diduga juga terjadi dalam serangan ke sekolah putri di Minab. Menurut seorang pejabat, lokasi itu dulunya merupakan bagian dari pangkalan angkatan laut di dekatnya.

Ini menunjukkan bahwa semakin banyak target yang dihasilkan komputer dan semakin banyak serangan yang dilakukan setiap hari, semakin sulit juga memastikan bahwa informasi target masih sesuai dengan kondisi terbaru di lapangan.

Di militer AS maupun Israel, keputusan akhir untuk menyerang target tetap berada di tangan manusia, kecuali dalam kondisi sangat ekstrem seperti saat sistem pertahanan udara harus merespons banyak serangan masuk dalam waktu bersamaan. Meski begitu, sejumlah orang di dalam sistem mengakui bahwa karena serangan kini berlangsung dalam jumlah besar dan sangat cepat, komputer mulai diberi peran yang lebih besar dalam pelaksanaannya.

Masalah Bukan Cuma di Sistem Software

Sejumlah sumber menilai persoalan utama bukan semata ada pada sistem, melainkan pada manusia yang mengoperasikannya.

AI memang bisa membantu perwira intelijen yang baik menjadi lebih efektif dan mengurangi kerusakan. Namun jika operator lebih fokus menghasilkan semakin banyak target dan kurang peduli pada siapa yang bisa terluka, maka AI juga akan membantu mempercepat proses itu.

Di AS, tantangan lain juga datang dari kebijakan pada pucuk pimpinan. Hegseth disebut lebih mengutamakan daya serang militer dibanding aturan perang. Ia juga dinilai meremehkan hukum perang, memecat pengacara militer, melonggarkan aturan dalam operasi tempur, serta memangkas hingga 90% petugas Pentagon yang bertugas melindungi warga sipil.

Tim di CENTCOM yang bertugas menghitung dan mengurangi risiko korban sipil kini tinggal sepertiga dibandingkan sebelum Hegseth menjabat. Padahal, tim ini penting untuk memastikan data target tetap sesuai dengan kondisi terbaru di lapangan agar serangan tidak salah sasaran dan menelan korban sipil.

Pada akhirnya, perang modern memang membuat proses penargetan menjadi jauh lebih cepat, lebih luas, dan lebih presisi. Namun, semakin besar peran software dan semakin tinggi tempo serangan, semakin besar pula risikonya jika manusia yang mengoperasikan sistem tidak cukup hati-hati.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |