Ada Perang Iran Kenapa China-India Tak Buru-Buru Borong CPO RI?

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Permintaan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dari dua pasar utama Indonesia, China dan India, hingga kini belum menunjukkan peningkatan. Kondisi ini terjadi di tengah situasi global yang masih dipengaruhi konflik geopolitik.

Seperti diketahui, ramai negara tengah putar otak menyiapkan antisipasi efek domino perang antara AS-Israel terharap Iran, yang mulai meluas ke beberapa negara di regional Timur Tengah. Kekhawatiran krisis energi memicu pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) oleh sejumlah negara. Sebagai informasi, minyak sawit sendiri dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi, dalam hal ini untuk pembuatan biodiesel.

Namun, menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono, hingga saat ini belum terlihat adanya lonjakan ekspor sawit Indonesia ke dua negara tersebut.

"Kalau Middle East (Timur Tengah) itu totalnya 1,8 juta ton ekspor kita ke sana. Nah, permintaan meningkat belum kelihatan. Saya lihat India dengan China, itu belum juga kelihatan ada peningkatan ekspor ke sana," ujar Eddy dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Ia menuturkan, salah satu penyebabnya adalah karena China dan India tidak hanya mengandalkan minyak sawit sebagai sumber minyak nabati. Kedua negara tersebut juga menggunakan jenis minyak nabati lainnya.

"Karena mereka kan sebenarnya, contoh nih ya, mereka kan bukan hanya menggunakan minyak sawit. Mereka juga menggunakan minyak bunga matahari, dan juga menggunakan minyak kedelai," jelasnya.

Menurut Eddy, kondisi ini membuat kebutuhan impor sawit dari Indonesia belum meningkat, terutama karena stok minyak nabati di negara-negara tersebut diperkirakan masih cukup.

"Nah ini sementara mungkin stok mereka masih banyak. Sehingga mereka belum kelihatan (ada permintaan impor CPO dari Indonesia). Karena perangnya masih baru," kata dia.

Di tengah kondisi tersebut, Eddy menyebut ekspor sawit Indonesia sebenarnya masih berjalan. Namun industri menghadapi tantangan baru berupa kenaikan biaya logistik dan asuransi pengiriman akibat konflik global.

"Dengan perang ini, yang kondisi global seperti ini, kita bersyukur ekspor sawit masih jalan, walaupun terjadi kenaikan biaya yang luar biasa. Kenaikan biaya logistik dengan asuransi itu 50% kira-kira kenaikannya," ungkap Eddy.

Ia mengakui lonjakan biaya tersebut turut memengaruhi permintaan baru dari pembeli, karena harga pengiriman menjadi jauh lebih mahal.

"Kenapa demikian? Karena biayanya kan jadi tinggi. Yang jalan memang sekarang adalah kita memenuhi kontrak-kontrak yang sudah kita tanda tangan, tetapi yang baru-baru ini ada sedikit penurunan. Kecuali mereka memang membutuhkan sekali. Tapi kan kita tidak bisa berbuat apa-apa," terang dia.

Meski begitu, Eddy menegaskan ekspor CPO Indonesia tetap berjalan, meskipun harus menghadapi rute pengiriman yang lebih panjang dan biaya transportasi yang meningkat.

"Kalau untuk kondisi perang, kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena kita tidak bisa mengontrol mereka untuk stop perangnya, tetapi alhamdulillah ekspor sawit masih jalan. Walaupun nanti dengan memutar, dengan kenaikan biaya, tetapi tetap kita jalan. Tetapi kita tidak pungkiri bahwa sekarang ini terjadi permintaan yang sedikit agak turun," katanya.

Ia berharap situasi ini bersifat sementara dan permintaan akan kembali normal apabila kondisi global membaik.

"Kita lihat sampai kapan, mudah-mudahan dengan perang berhenti, permintaan nanti akan normal kembali, kan naiknya 50% untuk biaya transport dan asuransi," ujar Eddy.

Sementara itu, Eddy menyebut harga CPO di pasar global saat ini juga belum mengalami lonjakan signifikan dan masih berada di kisaran US$1.100 per ton atau sekitar Rp18,5 juta per ton (asumsi kurs Rp16.866/US$).

"Kalau (kenaikan harga yang) signifikan sekali belum, belum, saat ini masih sekitar US$1.100 per ton," pungkas Eddy.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |