Amalia Zahira, CNBC Indonesia
01 May 2026 15:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Konsumsi batu bara global semakin terkonsentrasi pada segelintir negara besar, dengan China memimpin jauh di atas negara lainnya.
Data terbaru dari Statistical Review of World Energy 2025 menunjukkan bahwa struktur permintaan energi berbasis batu bara saat ini sangat timpang, sekaligus mencerminkan dinamika transisi energi yang belum merata di berbagai kawasan dunia.
China dan India Kuasai Hampir 70% Konsumsi Global
China tercatat mengonsumsi 92,2 exajoule batu bara pada 2024, setara dengan 55,8% dari total konsumsi global. Angka ini bahkan lebih besar dibandingkan gabungan konsumsi seluruh negara lain di dunia. Dominasi ini mencerminkan besarnya kebutuhan energi untuk menopang sektor industri, pembangkit listrik, serta pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
Di posisi kedua, India mengonsumsi 23,0 exajoule atau sekitar 13,9% dari total global. Jika digabung, China dan India menyumbang hampir 70% konsumsi batu bara dunia. Kedua negara ini menjadi pusat permintaan batu bara dunia, selaras dengan tingkat populasinya yang tinggi.
Exajoule dipakai untuk mengukur energi dalam skala sangat besar, biasanya untuk level negara atau dunia, bukan individu atau rumah tangga. Satuan exajoule setara energi listrik yang dipakai jutaan rumah selama setahun atau sekitar 172 juta barel minyak
Sementara itu, Amerika Serikat berada di peringkat ketiga dengan pangsa 4,8%, diikuti Indonesia (2,9%), Jepang (2,7%), dan Rusia (2,3%). Negara-negara lain seperti Afrika Selatan, Korea Selatan, hingga Vietnam memiliki kontribusi yang lebih kecil namun tetap signifikan dalam lanskap energi global.
Negara Berkembang Jadi Motor Kenaikan Konsumsi
Meski tren global mengarah pada energi bersih, konsumsi batu bara justru masih meningkat di sejumlah negara berkembang. Vietnam mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 9,3% dari 2023 ke 2024, diikuti Indonesia dengan kenaikan 9,0%.
Turki juga menunjukkan lonjakan signifikan. Sementara India dan China, yang sudah menjadi konsumen terbesar dunia, masih mencatat pertumbuhan konsumsi sebesar 1,4%.
Kenaikan ini umumnya didorong oleh meningkatnya kebutuhan listrik, ekspansi industri, serta keterbatasan akses atau kesiapan infrastruktur energi terbarukan di negara-negara tersebut.
(mae/mae)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469088/original/050162300_1768056820-photo-grid_-_2026-01-10T214641.503.jpg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468304/original/037132200_1767946563-SnapInsta.to_610749735_18549996940061415_8535549228643964214_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470160/original/093473700_1768198487-Web_Photo_Editor__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471422/original/000633700_1768286512-IMG_3417_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470425/original/077219800_1768205094-IMG_3373_1_.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5466588/original/088902800_1767849017-downloadgram.org_332402203_1591030664710492_5944447955525017518_n.jpg)
